Studi ini melibatkan analisis data dari 376 studi yang melibatkan 347.468 pasien dewasa dari 50 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar pasien dengan nyeri kronis juga mengalami depresi dan kecemasan. Ini menegaskan bahwa pengalaman hidup yang merugikan dan tekanan emosional dapat meningkatkan risiko terjadinya nyeri kronis.
Meskipun ada hubungan yang kuat antara nyeri kronis dan kesehatan mental, sayangnya skrining untuk depresi dan kecemasan bukanlah bagian dari protokol pengobatan nyeri kronis yang rutin. Oleh karena itu, penting bagi profesional medis untuk mengembangkan strategi yang dapat menangani kedua masalah ini secara bersamaan.
Dengan mengakui hubungan antara nyeri kronis dan kesehatan mental, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas hidup bagi mereka yang hidup dengan nyeri kronis. Inovasi dalam bentuk program terapi terintegrasi, peningkatan skrining, dan kriteria inklusi yang lebih luas dalam penelitian uji coba akan sangat bermanfaat untuk mengatasi masalah ini.
Kesimpulannya, nyeri kronis dan gangguan mental saling terkait dan harus ditangani secara bersamaan. Dengan pendekatan yang holistik, kita dapat memberikan perawatan yang lebih baik bagi mereka yang hidup dengan nyeri kronis dan tantangan kesehatan mental yang menyertainya.