Ukuran tubuh yang kecil membuat Paranthropus robustus rentan terhadap predator besar di sekitar Gua Swartkrans, seperti kucing bertaring tajam (sabertooth) dan hyena raksasa. Ada jejak gigitan dan bekas kunyahan pada tulang, yang menunjukkan serangan dari leopard. Tapi, Prof. Pickering menekankan bahwa meskipun individu ini rentan terhadap predator, bukan berarti seluruh spesiesnya lemah. Mereka berhasil bertahan di Afrika Selatan selama lebih dari satu juta tahun, dan ditemukan di berbagai lokasi bersama alat-alat dari batu dan tulang.
Masih jadi bahan penelitian apakah Paranthropus robustus atau Homo ergaster yang membuat alat-alat ini. Tapi, tim peneliti yakin bahwa Paranthropus robustus punya kemampuan fisik dan kognitif yang cukup untuk membuat serta menggunakan alat-alat tersebut. Penelitian masih berlanjut, termasuk analisis struktur tulang bagian dalam menggunakan CT scan, untuk memahami lebih jauh pola pertumbuhan dan cara bergerak spesies ini.
Penemuan ini membuka bab baru dalam sejarah manusia purba. Dengan tubuh kecil tapi kemampuan adaptasi tinggi, Paranthropus robustus menunjukkan bahwa ukuran bukan segalanya dalam perjuangan bertahan hidup jutaan tahun lalu.